Kamis, 04 Desember 2014

KISAH HIJRAH KE YATSRIB (MADINAH)

Sejarah Hijrahnya Nabi ke Yatsrib (Madinah) 1


Keadaan kaum muslimin di kota Mekkah semakin memburuk. Siksaan demi siksaan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy sudah tidak dapat ditolerir lagi. Nabi Muhammad SAW. akhirnya mengizinkan sebagian sahabatnya untuk hijrah ke Abbessinia (Ethiopia). 

Pada musim haji tahun 11 kenabian, datanglah enam orang dari suku Khazraj di Yatsrib menemui Nabi. Mereka menemui Nabi di Aqabah. Aqabah adalah sebuah tugu batu yang terletak diantara Mina dan Mekkah. Setelah keenam orang tersebut mendengarkan ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi, mereka pun menyatakan untuk masuk Islam. 

Pada tahun ke-12 kenabian, datang lagi 12 orang untuk menemui Nabi. Mereka pun mengakui hanyalah Allah Tuhan yang disembah dan mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Pernyataan keislaman mereka pun diikuti dengan janji setia mengikuti Islam. Mereka berjanji untuk tidak menyekutukan Allah Swt., tidak akan berzina, tidak mencuri, dan akan taat kepada Nabi Muhammad saw. Peristiwa ini dikenal dengan nama Bai'atul Aqabah yang pertama. 

Setelah menyatakan keislamannya, kedua belas orang tersebut kembali ke Yatsrib. Kepulangan mereka disertai oleh Mus'ab bin Umair yang ditugaskan oleh Nabi untuk mengajarkan Islam kepada penduduk Madinah. 

Pada musim haji tahun itu pula, Mus'ab bin Umair mengantar 75 orang Yatsrib untuk menemui Nabi dan mengucapkan sumpah setia mereka. Peristiwa ini dikenal dengan Bai'atul Aqabah kedua. Mereka berjanji bersumpah setia untuk :
1. mendengar dan menaati Nabi Saw, baik dalam keadaan semangat maupun malas. 
2. menafkahkan harta, dalam keadaan lapang maupun sulit. 
3. melakukan amar makruf nahi mungkar.
4. tetap tabah menghadapi cercaan kaum kafir. 
5. melindungi Nabi Saw, sebagaimana mereka melindungi keluarganya. 

Setelah Bai'atul Aqabah yang kedua ini, Nabi Saw. mengizinkan kaum muslimin untuk melakukan hijrah ke Yatsrib. Kaum muslimin melakukan hijrah secara berangsur-angsur. Adapaun Nabi Saw. masih berada di Mekkah sambil menunggu wahyu dari Allah swt. untuk berangkat hijrah. 

Melihat banyaknya kaum muslimin yang hijrah, kaum kafir Quraisy menjadi gusar. Mereka menganggap bahwa kaum muslimin akan memiliki kekuatan besar jika pergi ke Yatsrib. Oleh karena itu, mereka mencari cara untuk melenyapkan Nabi Muhammad saw. 

Mereka pun mengadakan musyawarah di suatu tempat yang dikenal dengan nama Darun Nadwa. Mereka bermusyawarah mencari cara terbaik untuk dapat melenyapkan Nabi Muhammad saw. Salah satu peserta musyawarah tersebut mengusulkan agar Nabi diusir dari Mekkah, ada pula yang mengusulkan agar Nabi dipenjara hingga mati. Adapun Abu Jahal mengusulkan agar Nabi saw.dibunuh saat Nabi keluar rumah saat berhijrah ke Yatsrib.  Akhirnya, usul Abu Jahal disetujui oleh para peserta musyawarah. Mereka pun mengumpulkan orang-orang yang terkuat dan pandai perang guna mengepung rumah Nabi saw. 

Saat para algojo mengepung rumah Nabi, Malaikat Jibril memberitahukan kepada Nabi tentang hal itu. Pada malam itu pula, Nabi saw. bersiap-siap untuk melakukan hijrah ke Yatsrib. Nabi pun menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidurnya. 

Setelah mengatur segalanya, Nabi segera keluar rumah seraya membaca Surah Yaasin. Atas izin Allah Swt., para algojo itupun tidak melihat Nabi walaupun mereka berjaga sepanjang malam. Ketika fajar tiba, mereka hanya mendapati Ali bin Abi Thalib. Dengan kesal, orang-orang Quraisy segera menyebar algojonya untuk melacak jejak Nabi saw. Mereka menjanjikan hadiah seratus ekor unta bagi siapapun yang dapat menangkap Nabi Muhammad saw. 

bersambung....

1 komentar: